Halaman

Selasa, 27 Juli 2010

Catatan bagi yang masih hidup di dunia ini……

APA YANG ANDA INGINKAN UNTUK KELAK DITULISKAN DI BATU NISAN ANDA?

Dale Carnegie mengharapkan  di batu nisannya kelak tertulis  DI SINI BERBARING SEORANG YANG  TAHU CARA MEMBUAT ORANG-ORANG YANG LEBIH PANDAI DARI DIRINYA MENGELILINGINYA”

 So, tulisan apa yang akan ada di batu nisan saya ketika saya meninggalkan dunia ini?

 Kalimat ini terngiang kuat dalam diri saya ketika saya berada di tengah ibadah penghiburan dan pemakaman seorang tokoh Kristen, tokoh penggerak kaum muda, tokoh nasional dan bapa bagi para petani, Prof. Dr.Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc. Seorang Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, yang hingga akhir hayatnya masih tetap mengabdi di Fak. Pertanian UGM.

Kepergian beliau  begitu mendadak, tanpa sakit, bahkan masih berolahraga di sore kamis 22 Juli 2010, namun pada pkl. 17.30 beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir meninggalkan dunia ini, istri tercinta, anak-anak dan cucu-cucu. Bahkan saya  sempat berusaha menelpon beliau di siang hari itu untuk menanyakan beberapa surat yang harus dikerjakan untuk rencana pertemuan bulanan di BKS PGI-GMKI Yogyakarta pada minggu depan ( 31/07/2010). Namun belum sempat saya berbicara dan berkonsultasi dengan beliau rupanya Tuhan telah menentukan hal yang lain. Beliau telah dipanggil kembali ke rumah Bapa di Surga, tepat pada saat saya bermaksud menelpon beliau kembali pada  sore itu.

 Bila dihitung waktu, tidak terlalu lama waktu saya mengenal beliau, hanya ± 7 bulan sejak beliau dipilih dan dilantik menjadi Ketua BKS PGI-GMKI Yogyakarta. Namun itu pun tidak terlalu intens. Hanya untuk keperluan-keperluan penting berkaitan dengan kebutuhan di BKS PGI-GMKI Yogyakarta, kami melakukan percakapan-percakapan intens lewat  HP. Waktu yang singkat namun beliau telah meninggalkan kesan yang mendalam di dalam diri saya, beliau begitu bersemangat untuk melaksanakan dan mengontrol berbagai rencana yang sudah dirancangkan di dalam rapat pengurus BKS PGI-GMKI Yogyakarta. Semangat, ketepatan waktu, ketelatenan dalam mengerjakan sesuatu, memberikan contoh yang sangat baik bagi kami. Hal yang begitu berkesan adalah pada saat  rapat rutin terakhir pada bulan Juni 2010 beliau mendesak bahkan mengerjakan sendiri beberapa SK dan surat yang dibutuhkan. Sepertinya beliau ingin mempersembahkan sesuatu yang sangat berarti sebelum waktunya berakhir di dunia ini. Dan bagi kami ini adalah hadiah terindah yang diberikan beliau berupa wasiat yang penting bagi keberlanjutan BKS PGI-GMKI Yogyakarta, Student Centre Wisma Immanuel dan GMKI cabang Yogyakarta.

 Hal yang mengharukan adalah pada saat beliau disemayamkan di rumah beliau di Pandean Sari No.12, sangat banyak krans bunga sebagai tanda duka cita yang terhampar di sekitar rumah beliau dan   begitu banyak orang yang yang terus berdatangan untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada beliau. Semua berusaha agar jangan sampai ketinggalan.

 Anda ingin tahu bagaimana mengetahui seberapa besar jasa seseorang ketika beliau hidup di dunia, seberapa besar usaha yang dilakukan untuk menjadi berarti? Datanglah pada hari kematiannya dan lihatlah, siapa saja yang datang, siapa yang memberikan ungkapan dukacita melalu krans bunga, apa yang disampaikan melalui khotbah dan kesan-kesan dari yang mengucapkan belasungkawa.  Rasa kagum, hormat dan kehilangan itulah yang tergambar dalam seluruh proses itu. Selamat jalan bapak, sesepuh, tokoh yang patut diteladani, semoga kami dapat melanjutkan perjuangan bapak.

Tulisannya tidak di batu nisan tetapi di dalam hati setiap orang yang pernah kenal dan bersama beliau selama masa hidupnya. Dan tulisan itu akan abadi. Semoga……    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar